Selasa, 15 Februari 2011

sketsa maranatha (acara desain interior)...



Hari minggu kemarin seorang teman dari IS (grup: Indonesia's Sketchers) jakarta menelpon saya. Ternyata sedang berada di stasiun kereta api bandung, menanyakan kendaraan umum yang menuju kampus maranatha.
Pak Nashir, nama teman saya yang juga seorang dosen interior di salah satu perguruan tinggi desain di jakarta itu rupanya sedang menghadiri semacam konferensi tahunan desain interior bersama rombongan mahasiswanya. Acara yang tahun ini diadakan di universitas maranatha bandung.

Kita baru bertemu pada hari selasanya pas tanggal merah saat saya libur.

Saat menyambangi beliau, di sana sedang ada kegiatan melukis kaos massal oleh para mahasiswa/mahasiswi peserta acara yang datang dari berbagai macam kampus jurusan interior se- indonesia. Kegiatan ini  dilakukan di lapangan di depan kampus fsrd-nya. Tema acaranya berkaitan dengan 'culture'- sebagaimana yang saya baca di poster acara.

Suasananya ramai sekali dengan aura kreatif yang kental akibat banyaknya cat dan warna-warni yang meriah, sungguh sayang jika di lewatkan tanpa nge-sket.
Apalagi banyak sekali mahasiswi-mahasiswi dengan berbagai komposisi wajah yang menarik, membuat mata ini terasa segar sehingga tangan lalu bergerak sendiri ... membuat sketsa :D







Menjelang siang hari saya dan Rofi -seorang teman dari IS bandung yang datang belakangan- diajak Pak Nashir mengikuti presentasi mahasiswa beliau di ruang pameran. Disini saya berkesempatan mensketsa landscape kota bandung yang terlihat dari lantai 12, tempat pameran berlangsung. Lalu ada beberapa gestur penonton yang sedang duduk memperhatikan presentasi sempat saya sket dan juga seorang mahasiswi penjaga stand pameran.                                                                          


Kemudian setelah makan siang -yang cukup sore- di kantin depan kampus, kami melanjutkan perjalanan menuju Saung Angklung Udjo di jalan  Padasuka (kearah cicaheum). Adalah teman Pak Nashir yang mengajak kami untuk ikut pergi kesana. Dia sudah punya rencana duluan dengan membawa rombongan mahasiswa.


Kami tidak pergi berbarengan dengan yang lain, melainkan menyusul kemudian dengan sepeda motor sambil janjian ketemu disana karena mau mampir dulu ke gramedia jl. Merdeka. Pak Nashir hendak membeli beberapa peralatan gambar, seperti cat air portable dan krayon, sekaligus untuk keperluan nanti malam yang rencananya kita akan bikin workshop kecil-kecilan dengan teman-teman sketcher bandung.


Perjalanan menuju Saung Angklung Mang Udjo mempunyai pemandangannya tersendiri. Dengan landscape yang menarik berlatar belakang perbukitan dan angin sepoi-sepoi menambah pas suasana sore itu.


Tiba disana, memarkirkan motor, kami langsung menuju pintu masuk setelah berjalan melalui  area parkir yang luas dan pelataran depan yang banyak sekali ditumbuhi pohon bambu, sesuai dengan namanya. Suasananya memang teduh karena terhitung berada di kaki bukit.


Ketika ingin masuk, ternyata di dalam sudah ada acara sendiri yang sudah dimulai sejak setengah jam yang lalu. Apabila ingin masuk, mesti membeli tiket karena acara ini di sertai workshop bermain angklung yang diberikan kepada setiap pengunjung yang menonton. Tidak seperti kunjungan di hari -hari biasanya.
Ya sudah, karena niat kami memang ingin melihat -lihat dan juga teman Pak nashir yang tadi belum muncul -ketika di telpon tak kunjung diangkat- akhirnya kami langsung mengambil posisi untuk membuat sketsa di pelataran depan sambil menunggu kedatangan rombongan mahasiswa dari maranatha.


Saya berhasil membuat sketsa pintu masuk padepokan Angklung Mang Udjo lengkap dengan tumbuh-tumbuhan dan ornamen bambu di sampingnya walaupun tidak terlalu detil, seperti yang saya posting di bawah ini. Itu pun setelah melihat Pak Nashir yang  sudah duluan men sketsa objek yang sama. Sementara Rofi memilih objek disebelahnya; bagian sisi kiri pintu saung, berdekatan dengan sebuah bus yang sedang parkir di dekat kami.


Setelah sekitar setengah jam lebih berada di luar dan yang kami tunggu tak datang-datang, para pengunjung yang ada di dalam sudah mulai berkeluaran -?-.
Sepertinya acaranya sudah selesai.
Ternyata setelah di telpon, rupanya rombongan yang janjian dengan kami tadi sudah duluan masuk sejak tadi. Mereka sudah datang lebih dulu dari kami. Kami pun segera bergabung dengan rombongan mahasiswa/i yang mana mereka tidak langsung pulang melainkan melihat-lihat souvenir dulu di toko aksesoris yang terletak di bagian depan Saung Angklung Mang Udjo.
Banyak sekali barang-barang seni kerajinan dari bambu yang di jual disini. Cocok untuk oleh-oleh, untuk di berikan sebagai souvenir kepada teman/keluarga, atau sebagai pajangan di rumah.  Saking banyaknya barang yang ada disini susah sekali untuk di sebut satu persatu. Yang jelas hampir semuanya berbahan dasar bambu.


Di sini saya mendapat beberapa sket gestur mahasiswi yang sedang berbelanja.
Saya baru menyadari ternyata men-sket gestur wanita sungguh menarik.
Ada perbedaan signifikan antara gestur maskulin pria, dan feminin nya wanita. Dulu dalam membuat gambar manusia (pria maupun wanita) hasil gambar saya selalu sama. Perbedaan antara keduanya hanya dapat di bedakan dari wajahnya (yang saya tambahkan dengan ornamen2 tipikal seperti; wanita rambutnya lebih panjang, pria biasanya berkumis). Namun perbedaan sesungguhnya ternyata ada pada 'rasa' gesture nya itu sendiri. Wanita lebih 'lembut'. Dan apabila berhasil mendapatkan kelembutan itu, maka akan terasa bahwa anda telah berhasil menggambar wanita.
Inilah yang saya rasakan kemarin,  seperti yang bisa di lihat pada gambar di bawah ini di- bagian sebelah kiri bawah- walaupun mungkin hasilnya masih jauh dari teori yang benar dan wujud yang sebenarnya.





Setelah dari sini kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid yang terletak di Jalan Wastu kencana, tepatnya di depan Balai Kota Bandung. Namanya Mesjid Al-Ukhuwah, Pak Nashir dan teman-teman yang lain mau sholat Maghrib dulu

Di sini kami janjian dengan Kang Helmi, sketcher bandung yang baru bisa bergabung sore ini, karena sepanjang siang hari tadi ada keperluan yang tidak bisa di tinggalkan.

Selepas sholat, teman-teman berbincang-bincang mengenai rencana malam ini, sekaligus temu-kangen. Sejak event Pasar Seni ITB yang lalu baru kali ini kami kembali bertemu lagi, di mana saat pasar seni tersebut adalah pertemuan pertama kali kami.

Sepanjang bincang-bincang santai yang cukup lama, saya berhasil men-sket beberapa gestur orang di dalam mesjid. Menarik sekali.
Jika ingin studi tentang berbagai figur manusia, saya rasa mesjid (terutama mesjid-mesjid besar, yang di kunjungi banyak orang) adalah pilihan yang cocok, karena disini mudah sekali di temui orang-orang yang posisi tubuhnya bermacam-macam. Ada yang berbaring, duduk, berdiri, membaca.

Namun, satu yang sering saya amati di mesjid-mesjid seperti ini, banyak di temui orang orang tua yang umurnya sudah sepuh. Sepenglihatan saya merekalah yang paling sering berlama-lama disini. Dan yang menarik dari karakter-karakter ini adalah raut wajahnya itu yang apabila telah mencapai usia tertentu,  menurut saya mempunyai 'pesona' artistik tersendiri. Jika di pindahkan keatas kertas sketsa anda akan mendapatkan ekspresi yang tidak biasa, alami, tidak di buat-buat. Dan keriput ke-renta-an wajah orang-orang sepuh ini dapat berbicara pula dengan bahasanya sendiri, menurut saya -jika anda berhasil menangkap objeknya dg baik-.

Namun sketsa yang saya buat tidak sampai kesitu.
Hanya berkisar di gestur umum orang yang sedang duduk di mesjid. Beberapa dapat di lihat pada gambar di atas, di bagian sebelah kanan atas.
Mungkin kali lain akan coba saya capture, wajah-wajah cantik itu, dalam sebuah sesi tersendiri.

Obrolan sore itu berlanjut ke sesi workshop kami yang jadinya di pilih tempat di sebuah cafe di kawasan jalan Burangrang. Sketcher yang menyusul datang berikutnya adalah mba Tenny, dan Iman. Sementara dua orang sketchers lagi yang berencana hadir adalah Aqwam dan kang Okta, namun tidak jadi datang karena tempatnya kejauhan. Memang acara malam itu sendiri mendadak, tidak direncanakan sebelumnya.

Di cafe tersebut acara workshop berlangsung hangat. Walau tidak banyak yang datang, namun antusiasme dari Pak Nashir yang banyak memberi tips pada malam itu di sambut baik dengan antusiasme yang sama pula dari teman-teman. Kalo di ingat-ingat lagi, itu seperti kuliah. Kuliah gratis. Kuliah santai. Mengingat Pak Nashir kan pengajar, dosen, namun dengan senang hati mau berbagi ilmu-ilmunya dengan menjawab pertanyaan dari kami yang malam itu memang banyak sekali bertanya. haha. Beliau menjelaskan tentang prinsip seni dan desain dari hal-hal yang mendasar. Mulai dari teori warna, cara mengkomposisikan, lalu metode gambar perspektif dengan 1 titik hilang, 2 titik hilang, 3 titik hilang.
Wah, mendadak saya teringat lagi kepada mata kuliah awal waktu di kampus dulu. Dan saya baru menyadari kalau waktu itu sebenarnya belum ngerti-ngerti amat tentang hal-hal tersebut. Penjelasan Pak Nashir me -refresh lagi ingatan akan pentingnya prinsip-prinsip dasar atau hal-hal basic dalam mendesain. Terimakasih Pak Nashir. Sungguh malam yang berharga :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar